Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, "Allahumma bariklana fii rajab wa sya'ban, wa balighna ramadhana." (Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.) HR. Ahmad dan Tabrani. Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....
.......there's must be somebody or something needs you.....
.......let's check it out.
Tuesday, May 18, 2010
C. U. there....
Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, "Allahumma bariklana fii rajab wa sya'ban, wa balighna ramadhana." (Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.) HR. Ahmad dan Tabrani. Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....
Thursday, February 25, 2010
Aku, Bus Penuh Sesak dan Wanita Berpeluh Ini
"Aku tak tahu ini cinta atau apa, yang pasti aku masih lega karena dia masih ada di dekatku meski aku tak tahu dia itu ibuku atau bukan...."
AKU terhentak-hentak dalam gendongan ibuku yang berlari-larian mengejar bus itu, panas sekali siang ini, peluh membasahi kaos dan topi peciku yang aku rasa kan mulai gatal ini. ibuku berhenti berlari bus itu melaju kencang, tak terkejar, hanya meninggalkan kepulan asap hitam yang menghantam wajahku, membuat mataku perih. Ibuku berdiri terengah engah, keringat di kulit lehernya yang berkilat jelas sekali dalam pandangan mataku, yang tepat berada di depan lehernya itu. Dalam pelukan ibuku yang erat ini aku tak mengerti mengapa aku selalu dibawanya berlarian mengejar bus-bus besar yang kotor, pengap, bising dan mengakrabi sesaknya penumpang, setiap hari.
Belum selesai juga, lagi... sebuah bus datang, aku kembali terhentak dalam gendongan ibuku yang berlari kencang, sungguh ini sama sekali tidak nyaman. Aku dibawanya melompat masuk ke dalam bus dan menyeruak diantara para penumpang yang berdiri, aku merasakan sepertinya mereka sedikit risih dengan kehadiran kami di tengah mereka.
Dan mulailah seperti biasa, ibuku memainkan sebuah benda di tangannya, benda ini aku tak tahu namanya, sebuah kayu kecil dengan beberapa bekas tutup botol yang dipaku di kayu itu, yang pasti ketika digerak-gerakkan akan mengeluarkan suara yang sejujurnya menurutku sama sekali tidak merdu dan sama sekali tanpa sentuhan harmoni sedikitpun pada komposisi ritmenya.
Tapi bagaimanapun juga benda itulah yang menjelma menjadi orkestra ajaib yang mengiringi ibuku bernyanyi, tanpa bosan meski selalu hanya lagu itu yang didendangkannya.
Ah akhirnya selesai juga ibuku bernyanyi, dan kini tibalah giliranku melakukan tugasku, ya... jangan dikira aku tidak punya job desk di sini, aku juga berperan, dan sepertinya efek dari peranku ini jauh lebih besar dari apa yang dilakukan ibuku tadi, meski tugasku hanya menyusuri bus dari depan ke belakang dalam gendongan ibuku sambil membawa plastik kumal seukuran 20x15 cm bekas bungkus permen Kopiko, tapi dengan itulah orang orang memasukkan uangnya kedalam plastik itu, satu yang aku yakin bahwa mereka memasukkan uangnya bukan karena menghargai suara ibuku yang bernyanyi tadi, tapi aku yakin sekali para penumpang memberikan uangnya karena diriku ini, mereka berempati kepadaku,seorang anak kecil yang belum genap berusia tujuh tahun dengan tubuh kurus, kotor dan yang jelas mereka iba dengan kondisiku yang tidak seperti anak seusiaku pada umumnya... orang bilang aku ini menderita autisme sindroma rett, atau semacam itu.
Aku tak mengerti itu, karena menurutku aku biasa-biasa saja, tidak merasakan sesuatu yang aneh dan kurang dibanding anak-anak lain, setidaknya itu yang aku rasakan. Okelah, memang untuk anak seusiaku seharusnya aku sudah lancar berbicara, tertawa, bernyanyi dan kuakui aku belum mampu melakukan itu, setidaknya sampai detik ini. Tapi aku merasa baik-baik saja kok. Selain itu, seharusnya di usiaku ini aku sudah bisa berlari-larian kemana-mana, dan sekali lagi kuakui aku memang belum bisa melakukan itu, lagi-lagi setidaknya sampai saat ini.
Tetapi dengan keadaanku yang seperti ini nyatanya aku bisa memperoleh uang yang lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak seusiaku yang lain, mereka bisa berlarian sendiri meloncat dari satu bus ke bus lain, menghampiri setiap kendaraan di perempatan lampu merah tanpa perlu digendong ibunya seperti aku, dengan kemandirian mereka itu nyatanya mereka tetap selalu kalah jauh pendapatannya dibandingkan dengan pendapatanku. Dan sekali lagi aku tak tahu kenapa bisa begitu, aku tak tahu apakah keadaanku sekarang ini adalah kelebihanku atau kekuranganku....
Tapi sepertinya dengan keadanku ini banyak orang yang mengasihani aku dan ini nyata-nyata telah banyak memberikan keuntungan berlebih pada ku dan ibuku, tapi satu pertanyaanku lagi yang belum kutemukan jawabannya, yaitu... mengapa aku harus dikasihani? Jika memang aku harus dikasihani mengapa anak-anak yang lain tidak? Mengapa aku dianggap berbeda? Tapi sekali lagi, dengan keadaanku yang seperti ini aku sungguh merasa tidak perlu dikasihani, aku merasa baik-baik saja kok, bukankah aku tidak terlalu berbeda dengan yang lain? Sebenarnya ada apa sih denganku?
Selalu setiap saat aku hanya bisa bertanya kepada diriku sendiri di dalam hati, ya dalam hati saja aku bisa mengungkapkan semua hal yang ada dalam pikiranku karena aku tidak tahu bagaimana caranya mengkonversi buah pikiranku menjadi susunan kalimat yang lalu akan kukeluarkan menjadi suara dari mulutku ini sehingga bisa dipahami oleh orang lain, aku tak tahu bagaimana caranya berbicara seperti orang-orang pada umumnya, setidaknya sampai detik ini. Dan karenanya pula aku juga belum bisa mengatakan sebuah pertanyaan penting kepada wanita berpeluh yang selalu menggendongku ini, untuk memastikan apakah dia benar-benar ibuku....
Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....
Wednesday, February 17, 2010
Kekerasan Psikis : Luka Kecil di Hati si Kecil Meski Tak Tampak Tapi Menyakitkan
Banyak orangtua yang menilai anak-anak zaman sekarang sudah tidak memiliki tata krama dan rasa hormat kepada orangtua-nya, mungkin sebaiknya para orangtua itu menilik kembali bagaimana intensitas hubungannya dengan anak-anaknya, pola asuh, pencontohan sikap dan pembangunan karakter anak sejak kecil.
"MAH, bacain ini mah" Sore itu Sisi (4 tahun) merengek pada minta dibacakan buku cerita kepada mamanya. Mamanya baru turun dari mobil, pulang dari kantor dan tampak suntuk dan kelelahan menolak permintaan Sisi.
"Nanti malam saja ya sayang, mama mau istirahat dulu".
"Nggak mau, nggak mau, sekarang..." Sisi terus merengek sambil menarik-narik rok mamanya yang sedang merebahkan diri di sofa. Sisi terus merengek, dan sang mama diam saja tidak menjawab. Sisi tetap tidak berhenti merengek, hingga mamanya berteriak keras, " Sisi..!! bisa diam tidak!! Mama jewer kamu nanti, mama lagi pusing, sana sama bibi, denger nggak mama bilang apa...sana...!!"
Sangat wajar emosi memuncak ketika hati sedang tidak nyaman, pikiran suntuk, stres beban pekerjaan dan capek, masih ditambah lagi dipancing oleh rengekan anak yang membikin tambah pening. Sisi memang salah, tapi bagaimanapun dia adalah balita yang belum bisa melihat realita. Sisi mungkin kemudian menurut dan diam tapi kita tidak pernah tau ada apa dibalik pikiran dan hatinya ketika itu. Anak bisa menyimpan dendam dan rekaman kejadian dalam alam bawah sadarnya, dan akumulasinya akan bermuara pada karakter, sikap, dan cara menyelesaikan masalah secara tidak tepat.
Yang perlu diperhatikan juga adalah kebiasaan dan cara pembantu, pengasuh atau baby sitter di rumah ketika orang tua sedang tidak berada di rumah, terutama para pengasuh yang kurang berpengalaman dan tidak mendapat pelatihan yang baik, sering memakai kata-kata bernada tinggi dan gertakan atau gerutuan ketika telah kehabisan cara dalam menghadapi anak yang rewel dan merengek atau ketika anak tidak berhenti menangis.
"Tapi aku nggak suka main piano yah..." Vino (11 tahun) memprotes keputusan ayahnya yang tiba-tiba telah mendaftarkannya ke sebuah les piano. "Vino, sini, dengarkan ayah, les piano bagus untuk Vino, anak-anak teman ayah juga banyak yang ikut les piano, dan mereka sekarang sudah bisa ikut festifal kemana-mana, ayah mau Vino seperti itu ya, ayah nggak mau dengar lagi, pokoknya Vino harus mau", kata ayah Vino memberi alasan.
"Tapi Vino kan sudah pernah bilang ke ayah, Vino kan pengen kursus karate yah... "
"Buat apa karate karate segala, nggak perlu itu"
"Tapi yah, aku nggak mau.."
"Vino!!..!, ayah sudah ambil keputusan, pokoknya tiap Selasa dan Kamis sore ayah akan antar kamu ke les piano, titik."
Setiap anak memiliki hak untuk ikut serta dalam menentukan keputusan yang menyangkut dirinya. Meski anak-anak adalah manusia baru, tetapi di sisi lain itu bukan berarti mereka tidak tahu apa-apa, mereka juga membutuhkan ekspresi pemikiran dan penyampaian pendapat. Anak-anak secara alamiah memiliki keinginan sendiri dalam hidupnya, mereka memiliki hidup dan dunianya. Sayangnya tanpa sadar kita sering menginginknan anak-anak menjadi apa yang kita mau karena ego kita, gengsi kita ketika melihat anak teman bisa melakukan banyak hal, dan berprestasi. Kita sering terjebak keinginan dan impian sendiri, dan celakanya lagi tanpa disadari anak kita menjadi sarana pemuas pencapaian keinginan kita demi kebanggaan dan gengsi.
Kalaupun mungkin keinginan anak tersebut benar-benar tidak tepat atau membahayakan dirinya maka bukan sebuah gertakan dan pemaksaan yang menjadi jawabannya. Anak yang pendiam, pemurung adalah indikasi kekerasan psikis yang berhubungan dengan emosi ini, pada tingkat yang lebih jauh anak akan menjadi seorang pemberontak bahkan demonstrator yaitu selalu menunjukkan penolakan dan konta pendapat dengan orang tuanya dalam rangka menunjukkan protes. Tapi bukannya simpatik yang didapat si anak, yang ada anak malah semakin berada dalam posisi dipersalahkan dan dianggap bandel. Kebanyakan orang tua tidak menyadari bahwa sikap memberontak anaknya itu adalah rangkaian dari kekecewaannya yang terdahulu.
Boni (8 tahun) dimarahi habis-habisan oleh ayahnya karena memecahkan vas bunga saat dia bermain bola di ruang tamu, begitu ayahnya tahu, tanpa dialog pembuka terlebih dahulu, , langsung saja berbagai kata kasar keluar dari emosi sang ayah. Boni hanya diam dan tertunduk, tapi tahukah sang ayah apa yang ada dalam pikiran Boni ketika dia tertunduk? Ketakutankah? Rasa dendamkah? Kebingungankah?
Lalu pelajaran apa yang didapat dari omelan itu, akankah mereka kemudian akan berbuat sopan dan disiplin? Ya, tapi disiplin yang muncul adalah disiplin karena rasa takut, bukan disiplin karena kesadaran dan pemahaman. Suatu ketika mereka berbuat kesalahan lagi dan tanpa adanya saksi yang melihat akankah mereka akan berani mengakui kesalahnnya?
"Aduh gimana nih aku nggak sengaja mecahin guci, aduh sebaiknya aku ngaku nggak ya? bilang nggak ya? ketahuan nggak ya? eemmm...dulu aja cuma mecahin vas dimarah-marahinin dan dihukum ayah sampai berhari-hari, ah mending diem aja ah, ngapain juga mengaku, ntar aku dimarahin lagi, biarin aja ah..." Itu adalah apa yang ada dalam pikiran Boni atau anak-anak lain sebagai efek trauma hukuman yang tidak tepat. Mereka akan belajar berbohong demi menyelamatkan diri, dan inilah pelajaran yang mereka petik itu, sebuah pelajaran yang sangat beresiko tinggi jika kelak terbawa hingga dewasa.
Anak-anak adalah manusia baru, jika mereka berbuat kesalahan bukan berarti mereka bodoh, tolol, atau tak tahu diri. Mereka butuh bimbingan untuk memilih cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Berdialaog baik-baik, tentu dialog ini disesuaikan dengan usia anak, duduk bersama dan biarkan anak-anak menceritakan kejadian atau kesalahan yang baru dilakukannya. Poin pentingnya adalah hargai dan beri pujian ketika anak bisa menceritakan kesalahannya, besarkan hatinya ketika anak mau mengakui kesalahan, lalu stop mengungkit ungkit kesalahan anak yang sudah berlalu. Berikan konsekuensi yang tepat, mendidik serta tetap menempatkan anak dalam posisi yang terhormat, maksudnya bahwa konsekuensi atau hukuman yang diberikan jangan sampai menjatuhkan mental dan kepercayaan diri anak, seperti disuruh berdiri di halaman rumah, dikunci di luar rumah atau hukuman lain dengan cara yang memalukan. Bahkan hingga saat ini, di sekolah pun masih banyak penerapan hukuman yang membuat anak tersiksa secara psikis, dijemur di bawah terik matahari atau membersihkan kamar mandi, ketika dia tahu teman-temannya melihat dia dihukum dan teman-temannya pun menertawakannya maka hukuman itu akan menjadi luka hati yang parah dan berbekas dalam waktu lama.
Luka hati yang membekas lama juga sering dialami oleh anak yang sering dibanding-bandingkan dengan sepupu atau anak tetangga yang kebetulan berprestasi lebih bagus. " Tuh kan Alya aja selalu dapat rangking satu terus, kamu ini selalu bikin ibu malu, nilai apaan ini rangking sepuluh besar aja nggak pernah bisa, ah memang dasar kamu itu...." Demikian kalimat yang selalu di dengar Ani (12 tahun), kalimat yang selalu muncul dari mulut ibunya setiap kali penerimaan raport dan membandingkannya dengan Alya teman sekelasnya yang kebetulan rumahnya juga berdekatan.
Ani memang sedikit lambat dalam memahami pelajaran, bukan karena tidak mau belajar, tapi kemampuannya memang sebatas itu. Banyak anak yang seperti Ani, sedikit kurang beruntung karena kemampuan otak yang memang berbeda-beda pada tiap manusia, banyak faktor yang mempengaruhi, seperti gizi atau bisa jadi adalah kekurangan yang merupakan bawaan sejak lahir. Anak yang merasa gagal sebenarnya sudah tertekan dengan kegagalannya sendiri tapi masih ditambah lagi dengan penjatuhan mental yang merupakan pelapiasan kekecewaan dari orang tuanya, dengan penyebutan atau labelling misalnya dengan kata dasar malas atau anak bodoh. Labelling hanya akan menyebabkan perilaku dan sikap yang lebih parah, labelling bisa menimbulkan anggapan kepalang tanggung atau terlanjur basah, "toh aku sudah dijuluki anak bodoh ngapain juga aku belajar kan sama saja." Belum lagi timbul perasaan dendam dan kebencian yang tidak disadari tumbuh perlahan terhadap anak yang selalu dijadikan bahan perbandingan dengan dirinya. Ani tanpa sadar bisa menaruh kebencian kepada Alya, padahal Alya tidak bersalah.
Kemudian yang perlu selalu dipahami bahwa kita harus melihat anak dengan perspektif Multiple Intelligences, setiap anak selalu memiliki potensi kecerdasan masing-masing, termasuk di dalamnya antara lain kecerdasan musikal, spasial, interpersonal maupun intrapersonal. Multiple Intelligences ini sama sekali tidak diukur hanya sebatas melalui nilai raport.
Anak butuh support, dan bentuk support yang paling sederhana tapi membuat anak memiliki rasa percaya diri adalah pujian dan reward. Jangan pelit memberikan pujian kepada anak, sekalipun pencapaiannya belum maksimal, tapi berikan pujian atas usahanya. Lalu reward atau hadiah adalah sangat penting bagi anak, tentu disesuaikan sebatas pencapaiannya. Berbicara mengenai reward, kita sering lupa bahwa kebutuhan anak adalah disayangi dan wujud rasa sayang itu, bisa berupa pelukan, ciuman sayang, dan belaianpun bisa menjadi hadiah yang sangat berkesan bagi anak.
Kekerasan psikis tidak banyak kita sadari telah kita lakukan pada anak-anak kita, anak didik ataupun anak-anak disekitar kita. Sekali lagi harus dipahami anak adalah manusia baru yang masih belum banyak tahu apa-apa didalam kehidupannya, hal ini jarang disadari dan membuat kita terlalu berlebihan ketika mereka berbuat kesalahan. Anak anak belajar dari dunia di sekelilingnya, meniru, ikut-ikutan dan menjiplak apa yang dilihat dan didengarnya. Anak-anak betindak hanya berdasakan kesenangan, dan memang seperti itulah dunia anak-anak. (also published at www.eccd-rc.blogspot.com).
Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....
Tuesday, February 2, 2010
Facial Refresh
SAATNYA ganti wajah. Plangplung sedikit ganti wajah...
Yup, biar lebih seger aja.
Selain itu, mohon maaf buat temen-temen visitors, karena komen-komen yang telah diberikan temen-temen selama ini terpaksa hilang. Hal ini karena Haloscan.com, yang selama ini menjadi penyedia layanan komen dan telah selama sekitar dua setengah tahun menjadi andalan plangplung telah mengubah kebijakannya sejak Februari tahun ini, sehingga plangplung terpaksa tidak memakai jasa Haloscan.com lagi. Anyway... life must goes on.... :)
Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....
Sunday, November 8, 2009
Punai Putih (Sepotong Kisah Dalam Akhir Malam)
Punai putih, ingin nikmatnya harum serumpun melati di seberang telaga. Tapi….Punai putih bersayap kecil. Berkali dan berkali, mencoba dan mencoba. Tak kuasa, sepanjang nafas, sepanjang hari. Pikirnya, dia….tak kan sanggup melewati telaga.
Berdiam diri melewati tengah malam, menggigil dingin tertusuk angin dini hari. Tak beranjak meski paruhnya kini membiru, bulu-bulu menegang membeku, kuku kuku lunak retak bagai telah renta. Punai putih, tiada surut, tak ada susut, karena ini bukan derita. Sekuat-kuatnya diri menancap terpaku, memaksa kukuh. Hanya karena percaya.
Punai putih tak sadar kini terpejam. Hingga… Punai putih tak merasakan rintik hujan telah turun, makin deras dan makin curah memuntah tanpa ampun, beriring hembus angin malam yang beku, kencang, bertiup, menghantam tubuh kecil yang kini tanpa daya, jatuh tak sadarkan diri…
Dalam menanti hingga dia hampir mati.
Tetapi…,Punai putih di pinggir telaga itu, tak menyadari, kini…,angin dingin itulah sang penghembus sejati harum serumpun melati,
sangat harum, sangat sangat harum,
hingga masuk, masuk ke dalam hati,
hingga dalam, dalam ke dalam hati,
lebih, melebihi mimpi,
melebihi harapannya,
yang tak pernah terbayangkan,
ternyata ini jauh lebih bermakna.
Karena ternyata pintu langit benar benar bisa terbuka,
benar benar bisa terbuka….
dan doanya…,
sungguh sungguh telah hadir di depan mata.
pertemuan dan perpisahan, ada dan tiada, jatuh dan bangun, tawa dan tangis, tampak dan samar, benar dan salah adalah berbentuk pertanyaan dan jawaban yang terdesain sedemikian rupa menjadi sebuah kepastian dan sama sekali bukan ke-tidak-pasti-an,
karenanya, karena hidup ini bukanlah suatu kebetulan, maka tidak ada alasan untuk meredupkan keyakinan demi memulai sesuatu dan lalu menyempurnakannya."


