" JANGAN PERNAH LUPA... GLOBAL WARMING TELAH SIAP MENGHANCURKAN BUMI INI !!!!
Have a nice day.....but don't ever forget to take a look around
.......there's must be somebody or something needs you.....

.......let's check it out.

If Tomorow Never Comes....

Sebuah kalimat yang saya kutip dari judul salah satu lagu milik Ronan Keating yang liriknya mengkisahkan sesuatu yang sangat mungkin bisa dilihat dan dimaknai dari berbagai macam sisi dan sudut pandang, tergantung dari bagaimana kita memahaminya.

Inti pesan lagu itu, meski dalam konteks kebalikannya, hampir serupa dengan cerita tragis mengenai seorang ibu yang saya kutip dari tulisan Ibnu Abdul Qodir Assegaf berikut ini, yang telah sedikit saya edit agar lebih ringkas tanpa mengurangi makna cerita. Mungkin bagi sebagian orang cerita ini sudah sangat familiar, namun semoga tetap bermanfaat.

Seorang ibu, Rani namanya, dengan kesibukan luar biasa. Wanita itu nyaris tiap hari terbang dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain. Tidak jauh beda dengan suaminya..... suami Rani ini adalah seorang yang sangat penting di perusahaannnya dan hampir tidak pernah mencium bau rumah. Mereka memiliki seorang anak, Alif namanya, usianya 3 tahun. Sejak baru lahir hingga seusia itu Alif lebih banyak menghabiskan waktu bersama Tante Mien, dialah baby sitter yang setia mengasuh Alif dari pagi sampai malam, dengan begitu Rani tinggal mengontrol dan memantau Alif melalui telepon. Beruntung mereka, Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan tidak terlalu rewel ketika sering ditinggal ayah bundanya serta gampang diberi pengertian. Salah satu contohnya adalah ketika Alif meminta seorang adik kecil. Kala itu Rani dan suaminya cukup terkejut dengan permintaan itu, tapi apa mau dikata kesibukan yang luar biasa membuat mereka kembali menagih pengertian Alif agar memahami keadaan ayah bundanya itu, dan Alif ini ternyata seorang anak yang sungguh istimewa, dia tidak merengek lagi, padahal hampir setiap hari dia kerap menjumpai kepulangan kedua orang tuanya setelah larut malam, dan harus berpisah lagi ketika pagi belum sepenuhnya habis.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitternya. "Alif ingin bunda yang mandiin..." ujarnya dengan tatapan polos seorang balita yang penuh harap. Karuan saja Rani yang terbiasa berkejaran dengan waktu dan sangat memperhitungkan tiap detik itu menjadi gusar. Dengan tangannya yang hampir tidak pernah lepas dari ponsel sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya Rani menolak permintaan Alif. Tak seperti biasanya, kali ini Alif benar-benar merengek. Suami Rani pun tak ketinggalan ikut membujuk Alif agar mau dimandikan Tante Mien, baby siternya itu. Setelah cukup lama dibujuk akhirnya Alif menurut juga, meski dengan wajah cemberut kecewa.
Bukan cuma sehari itu saja, rengekan Alif berulang lagi di hari-hari berikutnya, setiap pagi Alif merengek terus, hingga sampai sepekan rengekan itu masih terus berulang. "Bunda, mandikan aku !!!", kian lama suara Alif semakin penuh tekanan. Namun Rani belum juga menyempatkan diri memenuhinya, Rani dan suaminya berpikir itu mungkin karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah yang biasa dialami pula oleh anak-anak seumurnya. Lagi-lagi dengan memendam kecewa Alif menerima juga penolakan ibunya yang segera pergi ke kantor meninggalkan dirinya yang masih cemberut di depan pintu.

Sorenya, Rani yang sedang berada di luar kota dikejutkan oleh telepon baby sitternya yang mengabarkan Alif demam, badannya kejang-kejang. Alif langsung dibawa ke Rumah sakit sore itu juga. Malamnya Rani baru tiba di rumah sakit. Dengan pikiran yang campur aduk, dan satu-satunya keinginannya adalah memenuhi permintaan Alif yang ingin dimandikannya. Sebenarnya setelah selama sepekan mendengar rengekan anaknya itu Rani sudah menyimpan komitmen merencanakan bahwa besok pagi dia akan menghabiskan hari bersama Alif, memandikannya, dan berencana mengajaknya jalan-jalan dan bermain di taman.

Sampai di ruang UGD, Rani langsung terduduk lemas. Allah berencana lain, semuanya telah terlambat, balita mungil yang lucu itu kini telah terbujur kaku. Alif telah dipanggil oleh-Nya.

*****

Esok siangnya, Rani benar-benar mewujudkan permintaan Alif, meski Alif kini tinggal tubuh kecil yang terbaring kaku tak bernyawa. "Ini bunda nak, bunda mandikan Alif ya sayang..." ucapnya lirih sambil berkali-kali menciumi dahi dan pipi jasad anaknya itu, di tengah jamaah pelayat yang terdiam sunyi. Satu persatu rekan-rekan Rani yang dari tadi mendampingi disampingnya mulai menyingkir, berusaha menyembunyikan tangis haru.

Ketika cangkul demi cangkul tanah merah makin mengubur jenazah Alif, Rani masih berusaha tabah menahan isak tangis dalam pelukan suaminya. Wajahnya pias, tatapannya kosong, dadanya penuh sesak.

Tanah merah kini telah benar-benar penuh mengubur balita mungil itu, para pelayat mulai meninggalkan pemakaman. Rani masih berdiri di samping pusara, hening, sepi, angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang makin tercium tajam. Tiba-tiba Rani berlutut. "Aku ibunyaaaa!!!" seru Rani histeris, tangisan Rani makin meledak. "Bangun lif, banguuun, bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali saja nak, sekali sajaaa, Aliiif banguuun lif...." Rani merintih mengiba sambil tertelungkup memeluk gundukan tanah yang telah mengubur jasad anaknya, air matanya tumpah membanjiri tanah yang masih merah dibawah langit senja yang makin remang.

Hmm... mungkin itu sebuah cerita yang mengaduk perasaan, terlebih bagi yang pernah menyaksikan atau bahkan mengalami keadaan serupa.

"Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Munafiqun : 11)

Jika ada orang yang berkata bahwa penyesalan selalu tidak ada gunanya, mungkin jika kita bisa lebih bijak memaknainya maka sebuah penyesalan sesungguhnya sangat berguna sekali, asalkan kita mampu meng-konversi-nya menjadi suatu monumen pengingat agar hari ini menjadi lebih baik dari hari kemarin sehingga kita selalu siap lahir batin if tomorow never comes....

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (Al A'raf : 34)


Wah jadi teringat salah satu seruan penutup dalam suatu training motivasi marketing sekitar dua tahun lalu ; "Come on guys !!!... the winner doesn't have time to doubt, let's do it now... or never...."

Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya...

Matahari hampir jatuh ditelan batas bumi sebelah barat menjelang pukul 5 sore, sudah tidak terasa hangat lagi, tapi sinarnya masih sangat terang untuk membantu mata saya menyaksikan tumpuk-menumpuk ombak yang berkejaran beradu cepat berebut menjilati tepi pasir Pantai Pandansimo, pantai sederhana yang tidak terlalu ramai, pantai nelayan, sekitar 20 kilometer jika ditarik garis lurus ke arah barat dari titik wilayah garis pantai Parangtritis.

Sore itu, selepas menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan yang mengharuskan seharian berada di Kulon Progo, begitu memasuki wilayah Bantul setelah menyeberangi jembatan perbatasan dengan Kulon Progo, saya menyempatkan diri berbelok ke arah pantai itu, sekedar merefresh memori lama sekaligus merecharge rangsangan kreatifitas, sejenak menghela nafas menjauh dari "jarum jam" yang terus berputar. Tapi yang lebih penting dengan memandang permadani biru yang bergelombang menghampar seperti tak berbatas ini mungkin bisa agak membantu untuk menata kembali hati, pikiran dan perasaan ini, yang selama tepat satu tahun ini, menurut beberapa orang mungkin telah bergolak keluar dari logika.

Masih sepi....

Angin sore sangat kencang menerpa tubuh yang agak kelelahan, tapi percikan uap-uap air yang ikut terbawa menjadikan kesegaran dan sensasi khas udara pantai, meski suara hembusannya yang ber
deru menggemuruh cukup memekakkan menerjang tepat ke arah telinga.

Pasir yang ringan membuat dua kaki ini menapak dalam-dalam, sedikit terbenam ke dalam, membuatnya menyeret seperti kerukan pasir yang susul menyusul ketika beranjak bergerak langkah demi langkah, meninggalkan bekas-bekas yang menandakan tapak-tapak sisa perjalanan. Cukup sulit mengangkat kaki, terlebih ketika menemui gundukan yang menanjak agak tinggi.

Masih sangat sepi, karena memang biasanya orang-orang berdatangan sekedar berolahraga, bermain air, bercengkrama bersama keluarga, atau hanya duduk-duduk di bibir pantai ketika matahari sudah menjelang terbenam, itu berarti masih sekitar satu jam lagi pantai ini mulai agak ramai. Menurut standar pantai ini tampak 20 orang saja di area ini sudah bisa didefinisikan sebagai "ramai".

Mencari posisi....

Tak tampak seorang pun saat itu hingga dari arah barat muncul seorang laki-laki setengah baya membawa satu set jaring penagkap ikan, berjalan terus sambil sesekali berhenti memandang ke arah laut, mungkin dia mencari posisi yang paling manis untuk menebar jala dari bibir pantai. Saya mencoba mengikutinya dari kejauhan, karena memang belum tampak manusia yang lain selain bapak penjala ikan itu akhirnya saya duduk sejenak memperhatikan aktivitas satu-satunya manusia selain saya di tempat itu. Lubang-lubang jaring jala yang dibawa bapak itu adalah seleksi nasib yang berlawanan antara si bapak dan bagi si ikan, ikan yang lolos dari lubang jaring berarti dia masih punya kesempatan hidup dan ikan yang lolos itu harus belajar dari kesalahan yaitu "bahwa bermain-main di di dekat daratan ternyata memiliki resiko maut tertangkap manusia". Tapi di sisi bagi si bapak itu, seleksi nasib dari lubang jaring itulah menjadi jawaban bahwa hidup keluarga si bapak penjala ini masih bisa berlanjut, rejeki Allah melalui ikan yang tersangkut, dapur masih bisa berasap.

Armada perahu yang stand by mengantar tuannya memburu nasib....

Merasa cukup memperhatikan bapak penjala ikan itu, saya berjalan ke timur ke arah barisan armada perahu nelayan yang siap "terbang" ke tengah laut nanti malam. Perahu-perahu inilah yang akan menjadi pengantar upaya bertahan hidup sekaligus saksi takdir bagi nelayan yang menaikinya, karena sekali turun ke laut selatan, laut yang ombaknya terkenal sangat beringas itu, berarti keluarga di rumah harus siap menerima kepulangan si ayah dengan berbagai opsi fifty-fifty. Opsi yang paling sering adalah opsi pertama, yaitu ayah pulang dengan tumpukan ikan segar beraroma uang. Atau opsi kedua, yaitu ayah pulang dalam bentuk nama lebih dulu, baru kemudian tubuh sang ayah yang sudah tanpa nyawa menyusul ke daratan beberapa hari kemudian. Atau beberapa opsi lain yang mungkin lebih menyedihkan.

Ruang sempit dalam perahu yang menentukan hidup dan mati.

Nelayan tradisional seperti mereka lebih mengandalkan ilmu kebiasaan dan perasaan, mereka mungkin tidak sepenuhnya mengenal peta laut dan tidak kenal klimatologi modern, navigasi pun hanya mengandalkan bintang dan mercusuar di tepi pantai yang sangat mungkin tertutup kabut sepanjang malam. Meskipun tidak mengenal dengan detail tapi para nelayan ini memiliki sense atau perasaan tersendiri yang membuat mereka memiliki keyakinan untuk berani melaut dan mempertaruhkan hidupnya ke dalam sesuatu "yang tidak sepenuhnya mereka kenal secara mendalam itu", keyakinan yang bukan tanpa alasan dan sebenarnya memang realistis.

Tapi tindakan yang hanya mengandalkan "sense" inilah yang kadang membuat manusia tidak berpikir logis lagi pada suatu kondisi tertentu, semacam imajinasi yang gambarannya terkesan sangat indah namun bagaimanapun yang namanya imajinasi tetap imajinasi, dan imajinasi yang berada di luar rasio dan logika mungkin hanyalah mimpi palsu yang melenakan manusia, hingga membuat kita bisa "sedikit" terpeleset dari track etika yang seharusnya. Karena pada suatu kondisi tertentu manusia memang bisa berada dalam perasaan semu dan sikap irasional yang bagi diri sendiri ini adalah mimpi indah, dan karena mimpi indah itulah yang membuatnya lupa bahwa mimpi indah itu ternyata bisa merupakan suatu mimpi buruk bagi orang lain. Sering kita tidak menyadari telah terjebak dalam hal yang satu ini, kelihatannya saya sendiri masih harus banyak belajar dan berproses sendirian dalam hal ini.

Mulai banyak orang.

Pukul 5 sore telah lewat, dan benar saja, orang-orang mulai berdatangan, mengambil posisi masing-masing di beberapa titik yang disukainya, sedang beberapa pemuda terlihat berlari-lari kecil berolahraga menyusuri pantai. Mengalihkan pandangan agak jauh ke sudut tenggara, dimana terlihat beberapa anak bermain-main mengejar-ngejar kepiting kecil yang banyak besembunyi di lubang-lubang pasir. Kasihan kepiting itu berlari-larian mencoba tetap melindungi diri dengan menutupi diri dengan pasir.

Beberapa anak bermain-main menikmati pasir dan air.

Ada tiga kemungkinan utama dalam urusan kejar mengejar ini, yang pertama beberapa anak mungkin memang akan menangkap kepiting kecil itu untuk sekedar dipakai bermain-main bersenang-senang tanpa tujuan jelas. Kemungkinan kedua adalah diantara mereka mungkin ingin menangkap kepiting itu untuk diselamatkan dan disembunyikan untuk dilindungi agar tidak jadi bahan mainan anak-anak yang lain. Sedangkan kemungkinan yang ketiga mereka mengejar-ngejar kepiting itu karena mereka benar-benar membutuhkan kepiting itu untuk sesuatu yang penting, seperti untuk dijual demi memperbaiki ekonomi keluarga. Karena menurut mereka "mungkin hanya kepiting itulah" yang bisa membantu mereka dalam memperbaiki jalan hidupnya atau untuk mencapai suatu "tujuan mulia suatu cita cita istimewa", "ah... andai kepiting itu bisa memahami isi hati mereka yang terdalam tentu kepiting itu tidak akan lari menjauh". Hanya Allah yang tahu. Dan kemungkinan-kemungkinan semacam ini sangat sering menjadi dilema dalam kehidupan kita sehari-hari, sadar maupun tidak, dan kita sering kurang peka dalam memahami suatu niat dan maksud terdalam dibalik bermacam variasi tindakan-tindakan manusia dalam berinteraksi dengan diri kita.

Ini dia frame yang memuakkan, ceceran sampah.


Rumah-rumah kosong yang beberapa diantaranya memiliki "multi fungsi" bagi kehidupan malam.

Pantai ini butuh perhatian dan sedikit sentuhan penataan. Potensi pantai-pantai alami di sepanjang garis pantai selatan memiliki karakter eksotik-nya masing-masing, hanya sisi promosi-lah dan akses masuknya saja yang membedakan. Ini mengakibatkan mubazirnya peluang pembangunan ekonomi dan potensi alam, terlihat dengan adanya beberapa bangunan yang semula dibangun dan diperuntukkan sebagai fasilitas umum kini terbengkalai tak terawat.

Salah satu bangunan yang tak terawat, lumayan merusak pandangan.

Meskipun dengan dibiarkan saja seperti inipun sebenarnya masyarakat sekitar juga sudah banyak memperoleh peluang ekonomi, namun tentunya tidak maksimal dan tanpa peningkatan. Beberapa warga setempat malah mengaku lebih senang jika pantai tidak dikomersilkan, dibiarkan alami begitu saja, mungkin ada kekhawatiran dari beberapa warga terhadap lahirnya persaingan dengan kepentingan kapitalistik dan bisa mengancam mata pencahariannya yang sudah dijalani turun temurun ini atau ketakutan terhadap goyahnya tatanan sistem sosial budaya yang sudah terbentuk damai di wilayah ini.

Tapi apakah memang sebaiknya suatu kondisi yang telah berjalan baik mungkin seharusnya dibiarkan berjalan alami saja? Apalagi kondisi ini sangat rapuh dan terjaga, yang jika hanya berbekal feelling saja malah sangat beresiko merusak suasana dan tatanan hubungan yang sudah baik, benarkah memang seharusnya demikian?

Tapi jika hanya menunggu semua berjalan alami apakah mimpi itu akan terwujud sendiri? Kadang memang dibutuhkan suatu dobrakan berani untuk menyingkap rahasia, yang biasanya menyalahi kaidah dan kebiasaan, yang bisa jadi akan merubah kesan dan image diri, yang membuat diri kita sendiri seperti menjadi orang lain. Bagaimanapun setiap tindakan selalu memiliki resiko, salah satunya berujung pada antiklimaks dari suatu harapan, yaitu kita malah menjadi semakin jauh dari tujuan yang ingin dicapai itu jika dibandingkan ketika sebelum melakukan suatu tindakan apapun. Jadi... memang every brave heart is always facing an unexpected action risk.

Terbenam....

Oke, saatnya melanjutkan perjalanan lagi. Matahari telah makin menguning dan kini meringkuk menyudut hilang menyisakan semburat pita jingga halus yang unik. Semoga besok pagi ketika dia muncul kembali dari arah timur muncul pula suatu kejutan keajaiban yang tak terduga, kalaupun tidak semoga saja segalanya bisa kembali berjalan wajar seperti biasanya.

....................

Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya...

Beberapa hari yang lalu, melewati sebuah jalan di Kotagede, Jogja. Saya menghentikan kendaraan di pinggir jalan karena tiba - tiba handphone berbunyi, sebuah telepon masuk dari seorang saudara. Tidak lama, hanya beberapa menit saja.

Belum sempat handphone kembali masuk ke dalam saku, agak jauh diseberang jalan saya melihat seorang anak kecil perempuan, mungkin usianya sekitar tiga atau empat tahun, dia terjatuh, tertelungkup, sepertinya tersandung sesuatu. Sebenarnya selama menerima telepon tadi, saya sudah memperhatikan anak itu sejak dari kejauhan, dia berjalan sendirian dengan irama jalannya yang lucu dan belum sempurna itu, sambil menikmati es krim ditangannya. Dan es krim itu pun kini telah jatuh ke tanah.

Hampir saya beranjak menghampirinya, tapi kemudian saya urungkan niat itu. Karena tiba-tiba dia langsung berdiri lagi, tidak menangis.... tidak tampak kesakitan sama sekali. Mengibas-ibaskan pakaianannya dengan kedua tangannya, membersihkan lututnya yang kotor tekena tanah dan tidak hanya itu.... karena anak itu lalu memungut kembali bungkus es krim yang jatuh di depannya...., saya sempat khawatir jangan-jangan dia mau memakannya lagi, tapi ternyata tidak, dia berjalan beberapa meter menuju sebuah tong sampah... dan kemudian.... membuangnya.

Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya, kini dia berjalan lagi. Hanya kali ini dia setengah berlari berjingkat sambil sesekali berhenti membetulkan sandalnya yang berkali-kali hampir terlepas dari kaki kecilnya itu, saya masih memperhatikannya sampai dia menghilang di tikungan dan selepas itu baru saya merasakan di bibir saya telah tersungging senyum kecil, entah untuk apa senyum itu, untuk kelucuanya, untuk rasa terkesan saya, atau untuk sebuah pelajaran yang baru saja dia berikan pada saya, secara tidak sengaja.....

Mungkin peristiwa tersebut tampak biasa saja, sepertinya tidak ada yang istimewa, tapi bagaimanapun saya hanya ingin mengabadikan peristiwa sekilas tadi sekedar untuk mengingatkan diri saya untuk sesegera mungkin langsung "berdiri" kembali jika suatu saat nanti saya "terjatuh". Anak kecil itu saja tidak "menangis", "tidak merintih" dan tampak "baik-baik saja", dan lalu segera bangkit, berdiri. Tidak sampai di situ saja, "tidak berlama-lama mengurusi dirinya sendiri" yang kotor karena terjatuh, dia masih sempat-sempatnya langsung memikirkan dan melakukan suatu hal lain di luar kepentingannya, berjalan beberapa meter menuju sebuah tong sampah untuk membuang bungkus es krimnya yang telah terjatuh dan kotor itu.

**********

Setelah menjumpai peristiwa kecil tadi, baru saya sadari, saya sendiri masih sering terlupa, ketika saya sedang down, mendapat kesulitan dan berada dalam masalah, sering saya hanya sibuk memikirkan bagaimana masalah saya sendiri itu segera selesai dan menomor-duakan bahkan melupakan orang-orang disekitar saya yang pada saat yang sama sedang bermasalah juga. Dan parahnya, masalah yang di dapat orang-orang di sekitar saya tersebut ternyata, baru saya sadari juga, muncul karena saya terlalu sibuk memikirkan penyelesaian masalah saya sendiri dan melupakan keberadaan dan kepentingan mereka. Kasihan sekali mereka tidak salah apa-apa, tapi tiba-tiba mendapat kesulitan karena efek dari "ketidak-sadaran" saya. "Maafkan saya ya.... semoga saya tidak mengulanginya lagi...."

Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya...

Back To The Future

Sebuah titik jauh di depan yang selalu terlihat abstrak dan sangat samar bagi manusia yang hidup di masa kini, mungkin seperti itu gambaran masa depan. Samar tetapi siap atau tidak, bagaimanapun kondisinya, kita harus dan akan ke sana juga. Maka seorang yang datang dari masa depan adalah orang yang tepat untuk memimpin kita di masa kini karena dia tahu dan telah mengidentifikasi titik yang samar tersebut. Pemimpin yang tepat haruslah seseorang datang dari masa depan.

Jadi apakah seorang pemimpin yang tepat itu adalah seseorang yang memiliki mesin waktu kah? Yup..., tepat sekali.

Mesin waktu itu bisa berwujud ilmu pengetahuan, teknologi dan kreatifitas tingkat tinggi, pola pikir yang terbuka lebar, hati yang bisa berempati dengan orang lain serta keyakinan terhadap janji Allah.

Lalu apakah ada orang seperti itu?, menurut saya ada, tapi permasalahnya apakah kualifikasi seperti itu ada pada satu orang, atau terakumulasi dari dua, tiga, banyak orang atau malah pada sebuah lembaga?

Banyak kejadian yang menimpa negara ini, permasalahan sosial yang klasik sampai musibah alam. Seandainya sekarang pemimpin kita adalah orang yang datang dari masa depan, berbagai hal tersebut pasti bisa dicegah. ...Lho, tapi bukankah Allah telah berfirman "Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal" (At Taubah 51), jadi menurut ayat itu bukankah sesungguhnya apa yang terjadi ini sudah dituliskan olehNya? Bukankah yang terjadi ini memang harus terjadi?, oke...mungkin iya. Tapi disamping Dia telah menulis ketetapanNya, bahwa yang mati akan mati dan yang hidup akan hidup, Dia juga telah menghamparkan berluas-luas tanda-tanda kekuasaanNya, agar manusia mau berpikir.

Dan jika demikian adanya maka bukanlah hal yang sulit bagi Allah untuk menunjukkan kekuasaanNya termasuk dengan mudahnya menghidupkan seseorang yang secara logis tidak mungkin selamat atau dengan tiba-tiba mematikan seseorang detik ini juga, meskipun dia dalam keadaan sehat segar bugar.

Jika pemimpin datang dari masa depan, maka jauh-jauh hari bahkan jauh-jauh tahun sebelumnya dia pasti sudah tahu bahwa Bendungan Situ Gintung itu tidak akan berumur panjang, karena bukankah tanda-tanda fisik ke arah musibah itu sebenarnya telah teridentifikasi sejak bertahun-tahun lalu? Dan sudah sering pula dipergunjingkan warga sekitar, oke kalaupun pada kenyatannya memang sepertinya sangat sulit untuk melakukan pemugaran karena memang kondisi bendungan yang kompleks dan memiliki aktifitas non stop yang sangat tinggi, tapi upaya melalui jalan lain kan sangat banyak, para ahli konstruksi fisik bendungan, dan pakar-pakar yang berkaitan dengan teknik konservasi alam maupun para ilmuwan bidang pemberdayaan masyarakat tentu sangat paham harus melakukan apa.

Tapi sekali lagi para pemimpin kita sekarang dan pemimpin yang sudah-sudah bukan orang yang datang dari masa depan, jika pemimpin kita datang dari masa depan maka pasti dia akan tahu efek kerawanan Situ Gintung dan dia pasti sudah mengkomando para ahli itu untuk berbuat sesuatu demi mencegah akibat buruknya.

Jika pemimpin sekarang ini datang dari masa depan maka sebaiknya (seharusnya) dia telah tahu adanya "warning sign" dan mau mempelajarinya untuk kemudian berbuat sesuatu terhadap :
- Tayangan TV yang ber-efek buruk terhadap perkembangan anak-anak,
- Sekian banyaknya bangunan sekolah (terutama Sekolah Dasar) yang bolong-bolong atapnya dengan dinding miring berhias balok penyangga, menunggu giliran untuk roboh,
- Nasib orang-orang ber-KTP Indonesia yang berada di perbatasan dan di pulau-pulau terluar Indonesia, baik secara sosial ekonomi hingga psikologis,
- lulusan bergelar sarjana dan ahli madya yang makin membengkak hingga membuat ruang HRD di berbagai perusahaan menjadi makin sesak gara-gara dipenuhi tumpukan amplop berwarna coklat yang mungkin tak akan pernah tersentuh itu,
- Bayi-bayi mungil yang tidak lucu lagi karena kurang gizi,
- Gunung-gunung sampah plastik,
- Elang Jawa yang tinggal 500-an ekor saja,
- Bertambahnya rumah tidak layak huni di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung,
- Indikasi bakal terjadinya krisis air bersih,
- dan berbagai macam upaya halus untuk peng-halal-an sesuatu yang jelas-jelas haram.

...sebelum terlambat lagi, seperti biasanya....


"mencapai kesuksesan adalah efek belajar kesalahan dari masa lalu, tapi menciptakan kesuksesan baru adalah hasil belajar dan mencuri ilmu dari masa depan"

Catatan : tulisan ini sama sekali tidak bertendesi kepada seseorang atau lembaga yang sedang memimpin (berkuasa) pada saat sekarang maupun yang dulu sempat merasakan jadi pemimpin, tetapi lebih sebagai cermin pengingat bagi diri saya sendiri serta kepada beberapa (atau banyak) orang atau lembaga yang saat ini sedang berminat "mempertaruhkan hidupnya" demi menjadi seorang pemimpin baik itu sebagai kepala keluarga, ketua kelas, ketua RT sampai Kepala Negara.

Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya...

Ini nggak dipetik kok, cuma sedikit di sentuh saja….

Malam itu, pulang agak larut setelah sedikit memaksa diri untuk lembur menyelesaikan tanggung jawab, yah.. setidaknya selesai sebelum deadline kan lebih baik, paling nggak masih punya sisa waktu untuk menyempurnakannya.

Seharian penuh hujan turun sampai malam, Alhamdulillah seger rasanya dan saya yakin semua tanaman pasti tersenyum menikmatinya.

Sudah hampir jam 12 malam, sampai rumah hujan sudah reda, tinggal rintik mungil yang jatuh ringan dengan lembut, semua benda masih basah dan tampak indah mengkilap tertimpa sinar lampu jalan.

Beberapa saat sebelum mekar sempurna

Entah kenapa, atau mungkin karena pikiran dan perasaan saya memang lagi aneh saat itu, belum sempat masuk rumah pandangan mata saya langsung tertuju pada bunga itu, padahal biasanya saya tidak terlalu heboh menjumpai makhluk indah berwarna putih ini, tidak terlalu memberi perhatian khusus ketika bunga ini mekar di bulan-bulan sebelumnya.

Tampak mencolok di kegelapan dibandingkan
bunga-bunga lain di sekitarnya

Orang-orang di rumah dan tetangga sebelah hampir selalu heboh ketika bunga unik ini mekar, Bunga Wijayakusuma namanya alias Epiphyllum oxypetalum atau ada juga yang mengenalnya sebagai Queen of Night. Si Putih yang harum ini termasuk jenis tumbuhan kaktus dan konon dahulu kala bunga seperti ini adalah simbol istimewa para raja Jawa.

Tepat pada puncak pekat malam, dia memberi kejernihan,
sesaat sebelum kemudian layu.

Ya nggak berlebihan juga sebenarnya jika mereka heboh, karena bunga ini kan punya banyak “hanya”, antara lain: hanya mekar pada malam hari tapi sayangnya hanya mekar semalam saja, selepas Isya’ semakin merekah perlahan dengan anggun, hingga puncaknya memancar lebar pada tengah malam dan sudah itu mengatup kembali seiring berjalannya malam melewati dini hari menjelang pagi, hingga sepersekian saat menjelang Shubuh bunga ini telah layu, mati dan tak akan merekah lagi, tinggal menunggu bakal bunga yang lain yang mungkin muncul pada tunas-tunas cabang berbeda yang entah kapan lagi akan mekar.

Memang keindahan yang memancarkan pesona sejati harus mau ikhlas membatasi diri, karena jika tidak, ketika tidak ada batas dan dengan mudahnya siapa saja bisa melihat, menjumpai, menemui, bahkan menatap dan menyentuhnya maka keindahan itu mungkin lama-kelamaan menjadi cuma sekedar kata-kata lisan sebagai pronoun atau kata ganti untuk menyebut orang atau suatu benda saja, akan mudah meleleh seiring waktu berjalan, hambar dan lalu dilupakan begitu saja ketika pesonanya mulai hilang.

Untuk mendekati apalagi melakukan treatment lebih jauh terhadap suatu keindahan yang dibatasi itu, kadang kita merasa tidak siap, tidak capable dan tiba-tiba saja merasa diri ini tidak layak, maka yang muncul kemudian adalah kekhawatiran bahwa kita akan semakin jauh dan takut kehilangan pesonanya jika kita sering berada di dekatnya.

Takut kehilangan pesonanya…? Perjalanan dan rahasia kehidupan selalu akan dihadapkan pada kejutan-kejutan istimewa hingga kemudian sampai pada persimpangan yang manusiawi dan memang membingungkan…. Sejak Ibnu Haitham sampai Albert Einstein belum ada yang mampu merumuskan formula hitungnya. Bahkan Adam Smith atau Sigmund Freud dan Ibnu Khaldun pun tidak sanggup menjelaskannya dengan thesis mereka yang terkenal logis-empiris itu. Maka Allah pasti akan selalu menunjukkan kekuasaanNya….

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
( At Taghabun : 4)

Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya...